Pamer Paha & Payudara: Pasangan Mengincar Pujian Pria Lain?

 

Pamer Paha & Payudara: Pasangan Mengincar Pujian Pria Lain?
Alunan musik lembut mengiringi gemulainya liuk tubuh Yasmin, 27 tahun, yang hanya dibalut busana minim dengan potongan rendah menyingkap gundukan payudara. Dipandangi tatapan nanar sang suami, Bakhtiar dari sudut kamar di bawah temaram lampu.

“Istriku sekali dalam satu bulan, mengawali percintaan kami dengan cara seperti penari striptease. Aku sih senang-senang saja, asal gaya pameran tubuhnya jangan di hadapan khalayak,” ujar Bakhtiar yang mengaku, sebenarnya menyimpan keresahan melihat tingkah pola sang istri yang gemar berbusana minim itu.

Perilaku Yasmin, menyusul sejumlah wanita dari berbagai kalangan dan tingkat sosial, satu di antaranya, Alicya, 25 tahun, tak kalah heboh dalam berbusana. Ibu satu orang anak buah perkawinannya dengan Tono, yang bekerja sebagai sekretaris direksi di sebuah bank swasta di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan ini, mengakui memperoleh rasa senang ketika bagian-bagian tubuhnya yang mencuat dipandang nakal dan menjadi bahan obrolan lawan jenis di kantor. “Enggak tahu juga kenapa, kok ada rasa nikmat saja ketika cowok-cowok di kantor mencuri pandang ke ara dada saya yang acap mencuat akibat busana saya yang cukup ketat dengan belahan rendah,” tuturnya dengan wajah sumringah.

Berbeda dengan kedua wanita di atas, Neta merasa tak ambil perduli dengan pandangan pria terhadap tubuhnya yang seronok. la mengaku, memang menggapai perasaan puas dari hasil memamerkan auratnya, di samping ia menyukai busana minim. Ikut tren, begitu katanya.

Begitulah. Perilaku pamer sensualitas di hadapan satu atau lebih dari satu orang, dituding sebagai perilaku eksibisonis yang berasal dari kata exhibition yang artinya pameran, memamerkan atau mempertontonkan. Seperti dikatakan A. Kasandra, Psikolog, di Jakarat Selatan, bahwa para eksibisionis adalah orang yang mempunyai kebutuhan dorongan atau keinginan yang lebih dari orang rata-rata pada umumnya dalam menampilkan diri di depan orang banyak.

Hanya saja masalahnya, mana yang masih sebatas normal dan tidak, memang agak sulit. Bila sudah sampai memamerkan organ intim atau melakukan gerakan-gerakan sensual untuk kesenangan pribadi, itu sudah termasuk eksibisionis dini.

Psikolog berparas ayu jebolah UI ini, melanjutkan, sulit pula dibilang penari striptease, atau wanita yang ingin pamer tubuh di hadapan suami untuk memulai percintaan, bahkan artis yang berbusana minim sebagai eksibisionis. Selama dari sana, mereka tidak memperoleh kepuasan secara seksual.

Agak berbeda dengan Dr. Boyke D Nugraha. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah pria beberapa waktu lampau, ia mensinyalir, mereka yang suka pamer organ seks lebih pas dimasukkan dalam kategori narcism, yang istilah kedokterannya merupakan orang yang suka memuja diri sendiri. Karena mereka merasa dirinya paling aduhai dan menjadi pusat perhatian, sehingga tampilannya selalu mengundang perhatian.

Masalahnya kemudian, bisa jadi tak satupun dari para wanita itu mau mengakui dan menyadari, bahwa dalam memamerkan keseksian lekuk tubuh kepada khalayak, mereka sudah menjurus ke arah eksibisonis atau narcism, karena batas antara eksibisionis dan narcism amatlah tipisnya.

Dinimati Pria Lain
Menurut A. Kasandra, eksibisonis murni dapat dibilang adalah orang gila di jalan raya yang sudah tidak punya rasa malu mempertontonkan alat kelaminnya. Maka, bila seseorang itu tingkat memamerkan bagian ‘terindah’ tubuhnya dengan motivasi mengenakan mode busana minim sebagai penampilan belaka, dan tanpa motivasi, itu bukanlah suatu masalah. “Atau, mempertontonkan karena ada yang diharapkan, yaitu uang. Kelompok ini mungkin derajat kesakitannya masih lebih rendah dibanding mereka yang melakukannya tidak untuk suatu kebutuhan tertentu.”

Namun, menjadi masalah bila perilakunya termotivasi menarik perhatian lawan jenis, hingga tertarik bahkan terangsang. Inilah yang sudah tidak benar alias disebut mengalami kelainan seksual. “Demikian pula dengan mereka yang sebelum melakukan hubungan seks, didahului memamerkan tubuhnya dengan maksud membangkitkan gairah seksualnya, bisa disebut mengalami kelainan seksual,” ujar A. Kasandra.

Bahwa perilaku eksibisionis itu masuk kategori penyimpangan kejiwaan dalam hal seksual, bita memamerkan organ seks untuk kepentingan pribadi. “Hanya saja, siapa yang dapat mengatakan yang begini eksibisionis dan yang itu tidak. Rasanya perlu penelitian untuk menentukan kategori mana yang sakit dan mana yang tidak sakit. Memang, psikolog harus bicara berdasarkan statistik. Hanya saja, mereka yang suka dan senang berpenampilan seksi, berkecenderungan eksibisionis lebih besar ketimbang mereka yang tidak.”

Pemuasan seksual dengan mempertontonan diri memang sudah merupakan tren dan layak dicermati. Apalagi, ada kecenderungan jumlahnya meningkat. Malah, bila pada awalnya seks pamer ini hanya sebatas pada seseorang — biasanya pria — kini semakin bergeser. Dalam perjalanannya, mempertontonkan bagian vital tubuh mengalami revolusi demikian dahsyatnya. Lihat saja, pameran aurat tubuh telah merambah ke semua lapisan, remaja, lajang, wanita bersuami dari berbagai kalangan. Mereka begitu gamblangnya mengenakan busana yang menampilkan belahan buah dada, atau balutan pakaian dengan belahan bagian samping yang cukup tinggi, yang mempertontonkan kemulusan paha, dan busana tanktop untuk mempertunjukkan bagian perut yang mulus.

Nah, bagi pria-pria berpasangan dengan wanita yang gemar pamer keindahan tubuhnya, bergegaslah untuk memberikan gambaran akibat yang bakal ditimbulkan. Bila tidak ingin mendengar, pasangan wanita itu sudah sangat menikmati tatapan dan pujian pria lain, di luar Anda.

Adapun bahayanya:
1. Berbahaya bagi kelangsungan rumah tangga
Bila dilakukan wanita lajang, tentu iman pria beristri pun bakal goyah dengan tontonan sensual. Bukan tidak mungkin, kelangsungan rumah tangga si pria bakal terganggu.

2. Membandingkan rayuan pria lain
Wanita yang telah bersuami penyuka pamer tubuh, yang merasa mendapat kenikmatan lain dari pandangan pria di sekitar atau pujian, akan cepat membandingkan dengan kekurangan suaminya. Bukan tak mungkin, ia merindukan pujian pria lain ketimbang dari pasangannya sendiri.

3. Berbahaya bagi orang yang terangsang
Dengan mempertontonkan, tentu bahaya yang ditimbulkan lebih pada terbangkitnya libido pria di sekitar sehingga jajan seks semakin marak.

4. Berbahaya bagi diri sendiri
Yang paling menakutkan, mungkin, tubuh yang mengundang emosi itu akan membuat lawan jenis yang kalap melakukan tindak pelecehan, bahkan mungkin mencederai si wanitanya tersebut karena menolak.

5. Bersegeralah mengingatkan
Bila pamer tubuh wanita telah dianggap meresahkan, segeralah mengingatkan orang terdekat agar ia tidak terlampau berbusana mencolok mata, daripada mendapatkan hat buruk.

(Andriza Hamzah)

Gambar: Gettyimages.com




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: