Luluran Seks di Salon Putih

 

Luluran Seks di Salon Putih
Mulanya Roy tidak terlalu memperhatikan mengapa di DG, wilayah Jakarta itu, ada banyak saalon yang berkumpul di satu lokasi. Roy bekerja dekat lokasi tersebut. Hanya saja, menurut Roy, rasa penasarannya menjadi-jadi karena setiap kali lewat di sana selalu ditawari potong rambut, krimbat, atau perawatan lain.

Sepengetahuan Roy, tidak ada salon yang begitu agresif menawarkan jasa kepada para tamunya. Penasaran salon umumnya bahkan berkesan defensif, hanya menunggu orang datang. Tapi di DG, tamu sengaja “didesak” agar mampir. Hingga suatu ketika, Roy pun sengaja berkeliling ke beberapa salon yang ada.

Setelah merasa sreg dengan pilihannya, Roy masuk ke sebuah salon berukuran kecil. Seorang pegawainya yang bertubuh montok dan seksi menyambut Roy. Dia menawarkan sederetan perawatan. Namun yang beberapa kali disebutkan perawatan luluran seluruh badan.

Si wanita menyebut namanya Lusi, mengaku bekerja di salon tersebut sudah setahun. Roy semula hanya ingin krimbat. Lusi melayani. Saat krimbat Lusi melakukannya sambil mengobrol. Terkadang pembicaraan menyerempet ke hal-hal yang berkaitan dengan seks. Ketika pembicaraan menjadi lucu, Lusi pun tertawa seraya merapatkan dadanya ke tubuh Roy. Cara itu membuat Roy jadi terangsang.

“Kamu nafsu ya, Mas,” kata Lusi sambil tertawa. Roy mengelak, tapi juga tidak menolak ketika Lusi semakin berani menempelkan bagian-bagian sensitif tubuhnya. Lalu ketika Roy sudah kelabakan, Lusi pun berbisik, “Mau enggak, Mas, luluran, pasti enak…”

Seperti kerbau di cocok hidung, Roy mengiyakan ajakan Lusi. Mereka pindah ke sebuah kamar kecil. Di situ sudah ada tempat tidur yang bersih. Roy diminta melepaskan seluruh pakaian dan hanya dibalut handuk. Segelas minuman dingin disediakan. Sementara itu alunam musik yang agak keras seperti sengaja diperdengarkan untuk menenggelamkan suara-suara mesra.

Pertama Roy disuruh tidur dengan posisi tengkurap. Dengan handuk kecil yang basah oleh air hangat, Lusi membersihkan tubuh Roy. Perlahan dan penuh perhatian. Sesekali Lusi bertanya, apakah handuknya terlalu panas. Tidak, cukup hangat kok,” jawab Roy. Bukan hanya sekali membersihkannya, tapi Lusi melakukannya berkali-kali.

Setelah itu Lusi membalurkan krim lulur yang beraroma harum. Pemijatan lembut dilakukan. Mulai dari punggung, pinggul, pantat, paha dan sampai ke telapak kaki. Roy merasakan kenikmatan manakala bagian tubuhnya yang pegal di pijat.

Sekitar 20 menit Lusi memijat bagian punggung Roy. Kemudian dirinya meminta Roy terlentang. Roy terkejut melihat Lusi yang hanya menggunakan celana dalam dan kaos pendek. Kembali bagian dada Roy dibersihkan dengan handuk hangat. Bukan itu saja, sampai bagian bawah Roy juga dibersihkan.

Rasanya Roy tidak tahan lagi manakala bagian “itu” dibersihkan. namun melihat wajah Lusi yang biasa saja, Roy jadi tidak berani macam-macam. selanjutnya kembali krim lulur harum dituangkan ke bagian dada. Kemudian secara lembut Lusi memijat dada dan pundak Roy. Terus menerus gerakan memijat dilakukan sampai bagian pinggang.

Agaknya inilah yang dinamakan luluran nikmat. pemijatan dilakukan ke bagian paha dan kaki. Lalu secara hati-hati Lusi mengarahkan sentuhan tangannya ke bagian sensitif Roy. Situasi ini membuat Roy kelabakan seperti cacing. Apalagi waktu melihat Lusi melepaskan seluruh pakaian dalamnya, dan dalam keadaan polos menggeser-geserkan tubuhnya ke depan tubuh Roy. Hebatnya lagi Lusi melakukannya terus menerus sampai akhirnya terjadi hubungan seks.

Pengalaman itu sangat luar biasa buat Roy. Sejak itu ia menjadi langganan Lusi. Hampir seminggu dua kali Roy datang ke salon untuk luluran. Sampai suatu saat Roy tengah membeli sebungkus rokok dekat salon, kebetulan ada dua wanita pekerja salon lain menawarkan refleksi dan krimbat kepada Roy. “Kita layani berdua, Mas, yang satu krimbat yang satu lagi refleksi,” kata mereka genit.

Tentu saja Roy tergoda dan ingin mencoba> Tanpa sepengetahuan Lusi, Roy mendatangi salon yang interiornya berwarna putih tersebut. Ruangannya lebih besar. Roy langsung minta perawatan seperti yang ditawarkan. Sebut saja Rita dan Neli, yang ditemui Roy kala itu segera menyambut.

Setelah sedikit perbincangan, Roy dibawa ke kamar. Dan seperti yang telah terjadi dengan Lusi, walaupun katanya mau krimbat dan refleksi, tetap saja tubuhnya dibersihkan dengan handuk panas. Perlakuan selanjutnya tidak berbeda, hanya saja lebih fokus pada bagian kepala dan kaki.

Tiba-tiba saja Rita yang berpakaian minim menciumi Roy, sementara Neli yang juga berpakaian minim, memainkan tangannya pada bagian paling sensitif Roy. Ini benar-benar kejadian dashyat buat Roy. Sebab dalam satu perawatan, ia mendapatkan dua pelayanan sekaligus.

MEnurut Roy, saat pengalaman itu diceritakan pada temannya yang sering mencari hiburan malam, ternyata hal tersebut tidak asing. Malah ada yang lebih dashsyat, unik dan hebat dari segi pelayanan. Tentunya semuanya itu masih dalam hubungan seks. Hanya saja kata Roy, di tempat itu ia justru terlena denga pelayanan Lusi yang tidak berlebihan.

Bahkan Roy pernah datang hanya untuk mencuci rambut. Setelah itu dilanjutkan perbincangan mesra. Keduanya menghabiskan malam dengan minum teh dan kopi tanpa melakukan hubungan seks.

Di DG memang setiap pegawai salon memberlakukan tamu dengan penuh perhatian dan tidak berlebihan. Mereka akrab dengan tamu yang sudah beberapa kali datang. “Tidak melulu soal seks. Saya suka pelayanan yang rasanya seperti orang dekat atau seperti istri begitu,” kata Roy.

Roy juga datang setiap saat ke salon-salon itu. Bahkan Roy tengah mengutarakan niatnya untuk mempersunting Lusi. Namun, jawaban yang diperolehnya sangat mengejutkan. Lusi menolak untuk menikah, sebab dia sudah tidak bersih lagi. “Saya bukan wanita yang pantas untuk dijadikan istri,” kata Lusi. Seraya tetap melayani Roy secara profesional.

Sumber: Male Emporium




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: