Side Job: Pria Peliharaan

 
 

Side Job: Pria Peliharaan
Inilah proses hidup yang saya jalani. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga sekuler, bukan berarti tidak beragama dan tidak menjalankan syarikat agama yang saya percayai. Namun dalam beragama saya termasuk rasional. Sebgai umat beragama, saya mengerti tentang ajaran baik dan buruk, dan apa yang musti saya lakukan ketika berhubungan dengan sesama manus¡a dan juga Tuhan.

Waktu kuliah saya termasuk mahasisma yang suka berdiskusi dan membaca, tapi bukan kutu buku. Saya bahkan sempat mendirikan forum kajian antar mahasiswa. Setiap berdiskusi saya selalu mewarnai diskusi, sehingga suasana forum menjadi hangat dan penuh perdebatan. ltu terjadi, karena saya sering memakai paradigma terbalik. ltulah salah satu jurus andalan saya, setiap kali dalam melontarkan pertanyaan dan mematahkan argumen pembicara.

Perkenalan saya dengan dunia gigolo berawal dari seorang teman sekampus, yang sudah mengenal dunia itu terlebih dulu.
Sampai sekarang dia tidak lepas dari dunia tersebut, karena sudah merasakan nikmat- nya menjadi pria peliharaan. Sebelum
menjadi pria peliharaan, penampilan Hendri (nama samaran), biasa-biasa saja. Hampir sama dengan saya, pakaiannya tak berme-rek. Namun beberapa bulan menjadi pria peliharaan, perlahan-lahan penampilanya pun berubah layaknya mahasiswa kosmopolitan, sering ke salon, fitness dan spa.

Saya bersentuhan langsung dengan dunia gigolo dan menjadi pria peliharaan, setelah lulus kuliah dan bertemu kembali
dengan Hendri di acara reuni kampus. Dua tahun saya berpisah tanpa berhubungan sama sekali dengan Hendri. Kami sal¡ng
bercerita dan berbagi pengalaman. Pertemuan kali itu tidak seperti pertemuan antarmahasiswa yang pembicaraannya tak
lepas dari teori dan teori. Pembicaraan kali itu adalah tentang masa depan dan pekerjaan. Saya dan Hendri sudah bekerja di bidang marketing karena kita lulusan fakultas
ekonomi. labatan saya masih staf dengan penghasilan rendah, namun saya tidak pernah mengeluh karena sadar posisi.
Pertemuan dengan Hendri membuka lembaran lama dan membuat lembaran baru. Di sinilah saya mulai tertarik menjadi
pria peliharaan. Awalnya ingin sekadar tahu dan mencari uang tambahan, b¡ar tak kekurangan uang di akhir bulan. Sesuai dengan kesepakatan, saya bertemu kembali dengan Hendri, melanjutkan pembicaraan beberapa hari lalu.

Kita bertemu di sebuah kafe hotel, di kawasan Sudirman. Hendri memperkenalkan saya dengan Aida (nama samaran), tante yang memeliharanya. Walau sudah berkepala empat, namun pesona kecantikan Aida masih terpancar dan memikat kaum pria. Penampilannya biasa, tidak mengesankan sebagai “tante girang”. Wanita karier, itulah kesan pertama yang saya peroleh. Tubuhnya tinggi, kulit putih, tatapannya tajam, mukanya panjang, dandanannya rapi, elegan, dan bewibawa.

Kita duduk di bagian pojok kafe hotel, sambil menikmati hangatnya kopi, bercerita tentang berbagai hal. Pembicaraan terkesan tak ada ujung. 5emua permasalahan menjadi bahan pembicaraan. Dari sekian banyak pembahasan, satu yang berkesan di hati saya. Tentang pribadi dan riwayat hidup
serta kisah keluarga tante Aida.

“Suami saya seorang pelaut. Jarang di rumah. Pulang hanya satu kali dalam satu tahun. Semua belahan benua telah ia sing
gahi. la paling senang berlabuh di Afrika karena alamnya bagus, aksesorinya unik-unik dan harganya tidak mahal. Namun, ada satu hal yang tidak dia senangi dari Afrika. Nega-
ranya kumuh, miskin, terkesan pemerintah nya tidak memperdulikan kehidupan rakyatnya,” cerita tante Aida sambil membenahi duduknya.

Selamat Datang Malam
Hubungan saya dengan Hendri dan tante Aida semakin erat. Perlahan-lahan Hendri dan tante Aida mengajak saya untuk ikut arisan dan acara yang diselenggarakan teman-teman tante Aida. Di sini saya berkenalan dengan tante Tuti. Seorang wanita karier, yang bekerja di sebuah bank swasta dengan jabatan Director Private Banking. Lajang, itulah gelar yang dia sandang sampai sekarang. santai dengan jabatan terkesan ia hidup tanpa beban. Tidak ada faktor psikologis, yang menyebabkan ia tidak menikah, seperti dikecewakan pria atau disakiti pria.

Tante Tuti, wanita karier yang gila bekerja, sampai lupa dengan pria dan rumah tangga. Namun ia tidak termasuk wanita anti dengan rumah tangga. Malah ia merindukan rumah tangga, punya anak dan suami. Persoalannya, belum ada pria yang bisa bersemi di hatinya, dan belum ada pria yang mau menjadi pendampingnya. Dari hasil pembicaraan, tante Tuti bukan seorang perempuan berideologi feminisme, dan tidak ada latar belakang ideologi yang dia miliki.

Tante Tuti hanya wanita biasa yang membutuhkan belaian, cumbuan, dan rayuan pria. Berhubung belum mempunyai suami, akhirnya ia memelihara pria. Saya salah satunya. 5aya tidak tahu saya pria keberapa yang menjadi peliharaanya. Yang jelas, fungsi saya hanya sebagai pemuas nafsu dan menemani tante Tuti bila kesepian. selentingan isu yang saya peroleh, ia tidak akan lama-lama memelihara pria, jika pria tersebut tidak mampu memuaskan dan menjadi mitranya yang baik. Berarti, saya termasuk pria yang mampu memuaskannya. Empat bulan sudah saya menjadi peliharaan tante Tuti.

Banyak keuntungan materi yang saya peroleh. Dari hasil berhubungan dengan tante kelahiran lakarta ini, saya sudah mempunyai rumah, mobil baru, dan deposito. Yang lebih mengasyikkan, saya tidak pernah kekurangan uang lagi. Tidak seperti dulu, setiap akhir bulan selau minus alias kantong kering. Sekarang saya tidak pernah lagi mengalami kekeringan kantong. Kini setiap bulan saya mempunyai dua pendapatan, pertama dari hasil bekerja selama sebulan, kedua dari tante Tuti.

Dalam berhubungan kita tidak mempunyaikesepakatanpembayaran, tiap minggu, bulan, atau sesudah bercinta, dengan jumlah tertentu. Yang jelas, 5etiap minggu kami pasti berhubungan seks, membagi rasa, menuangkan rindu dalam dinginnya malam. Saya juga tidak pernah protes, karena uang yang diberikan tante Tuti sangat memuaskan. Bahkan, sempat terbetik untuk berhenti bekerja, namun gagal. asalnya, pekerjaan yang seperti
bersifat sementara dan sampingan, atau hanya mencari tambahan itu, hasilnya lebih besar dari gaji.

Enam bulan berhubungan, tante Tuti mengajak saya menikah. Menata rumah tangga, seperti pasangan suami istri, punya keturunan dan sebagainya. saya kaget dan tidak tahu apa yang harus saya tidak mau mengecewakan orangtua. selama ini, sau-
ara dan orangtua saya tidak tahu, bahwa saya mempunyai pekerjaan sampingan sejak ajakan menikah itu, saya mulai menjaga jarak dengan tante Tuti. Dia pun mengerti dan tidak menuntut materi yang pernah dia berikan. Perlahan-lahan hubungan kami semakin jauh. Tapi saya tidak bisa melupakannya, karena hatinya baik dan lembut seperti kapas. ltulah yang saya rasakan. Bukan karena saya peliharaannya. la
termasuk wanita yang suka membantu orang lain, tidak suka marah dan disenangi oleh bawahan. Ya, komentar positif tentangnya, sering saya dengar dari bawahan dan orang-orang yang mengenalnya. (Seperti diceritakan Amrizal kepada Ajo)

Sumber: Male Emporium




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: