Nude Server

 
 
 
Nude Server
Tren bachelor party alias pesta lepas bujang, seperti tak kehabisan ide. Kalau anak gaul bilang: ENGGAK ADA MATINYE! Pesta yang satu ini, bagi masyarakat Jakarta, apalagi yang sudah terbiasa dengan budaya hidup malam, sepertinya menjadi sebuah kewajiban. Setiap ada yang mau menikah, tak peduli laki atau perempuan, pasti ada pesta lepas lajang sebagai bagian tak terpisahkan sebelum menuju ke pelaminan.

Saya masih ingat dengan beberapa pesta lajang yang digelar teman-teman karib belakangan ini. Ya, kira-kira satu tahun lalu. Pesta terakhir yang saya ikuti di sekitar akhir November 2003 lalu adalah pestanya Vanda – sebut saja begitu namanya, berusia 26 tahun, sahabat perempuan saya yang sehari harinya mengelola salon dan butik. Perempuan berambut blonde ini (yang pasti bukan asli, tapi dicat) punya gang arisan yang kerap meluangkan waktu dengan nongkrong dan ber-windowshopping di mal-mal.

Seminggu menjelang hari H pernikahannya, Vanda menggelar bachelor party di sebuah kafe di sekitar Blok M, Jakarta Selatan. Temanya sih sederhana: RED PARTY. Tamu undangan yang sebagian besar adalah teman dekatnya, mesti mengenakan pakaian serba merah. Untuk pestanya itu, Vanda rela memboking kafe tersebut semalam suntuk. SORRY, WE ARE CLOSED 4 PUBLIC. NOW, IT’S PRIVATE PARTY. Begitulah tulisan singkat yang dipasang di pintu masuk. Jadi, maaf, yang bukan undangan tidak boleh masuk.

Sesuai dengan tema, tamu yang datang sebagian besar memang perempuan dengan busana serba merah. Pesta dimulai sekitar pukul sepuluh malam. Sebagai pembukaan, acara diisi dengan beer toast bersama. Karena free flow, setiap tamu memesan minuman favorit, dan pesta pun langsung meriah dengan iringan musik dj. Puncaknya, muncul lima penari cowok: keren, berotot, pandai menari, yang beraksi di atas bar.
Vanda yang punya gawe langsung didaulat naik ke bar dan dikeroyok lima penari laki-laki yang hanya mengenakan cawat tipis warna hitam itu.

Mudah dibayangkan, kemeriahan pesta pastinya makin menggila dengan tontonan lima penari laki itu. Belum lagi akibat pengaruh alkohol membuat sebagian besartamu larut dalam suasana pesta. Hingar-bingar so pasti, tapi liar terkendali. Keliaran tidak sampai menjurus pada aktivitas-aktivitas seksual. Yang ada hanya ledakan-ledakan kecil yang membuat tamu berteriak dengan nyaring. Misalnya, ketika Vanda di’kerjain’ lima penari laki-laki yang dengan aktif meraba, memeluk, dan meliuk seksi secara bergantian. Dan Vanda menjadi ‘ratu semalam’, yang dijadikan piala bergilir sekitar satu setengah jam. Selebihnya adalah suara tawa, denting gelas, musik disko yang mengalun keras, dan aroma alkohol yang berhembus bersama dinginnya air conditioner.

Nude Server Party. Yang tak kalah hebohnya adalah pesta lepas bujang yang berlangsung pertengahan April 2004. Yang satu ini lebih liar dan memang di-setting sarat bernuansa seks. Temanya: Nude Server Party. Yang punya hajat adalah Raka-sebut saja begitu, 32 tahun, sehari-harinya dikenal sebagai esmud yang sukses di bisnis otomotif. Pestanya dikoordinir oleh sebuah event organizer. Bertempat di GN – sebuah klab one stop entertainment di wilayah Jakarta Barat – Raka dan kawan-kawan menggelar pesta ruang penthouse bernomor 815. Ruang ini bisa menampung lebih dari 200 orang, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti dj-box, mini bar, ruang tamu besar dengan sofa-sofa empuk, empat kamar tidur, dan mini dance floor.

“WELCOME TO WILD ROOM AND SEX FANTASY!!!” Begitulah ucapan paling tepat untuk menggambarkan suasana pesta yang terjadi. Bagaimana tidak? Raka hanya mengundang 15 teman dekatnya. Semuanya laki-laki. Sebelum ke tempat pesta, mereka berkumpul lebih dulu di lobby hotel bintang empat di kawasan Thamrin, dan berangkat bersama menggunakan bus yang disewa khusus. Mereka pun masuk ke ruang 815 melalui lift yang hanya diperuntukkan untuk tamu-tamu tertentu. Sejak di dalam bus, mereka sudah dilarang mengenakan baju atasan. Hanya boleh mengenakan baju bawahan, terserah celana panjang, sarung, atau celana pendek.

Begitu sampai di ruang 815, mereka disambut lima pramusaji dalam keadaan half-naked. Lima pramusaji perempuan itu membiarkan bagian atas tubuh terbuka dan hanya menutup bagian bawah tubuh dengan underwear. Dua di antaranya membungkus bagian bawah tubuh dengan celemek: tertutup di bagian depan, menganga di bagian belakang. Tugas mereka melayani tamu-tamu untuk urusan makan dan minum sepuasnya. Tentu saja, untuk urusan kenakalan, mereka pun tak pernah menolak.

“Towel…towel sedikit, bolehlah. Enggak ada larangan kan?” tanya saya, iseng-iseng berhadiah. “Jangankan cuma nowel, lebih dari itu juga boleh. Tapi tips-nya jangan lupa ya,” bisik seorang pramusaji dengan senyum hangat menimpali. Waduuh…! Tidak hanya lima pramusaji half naked yang berkeliling ruangan, tapijuga ada lima penari tangju dengan atraksi-atraksi erotis memanaskan pesta di ruang 815 itu. Mereka menari mengikuti iringan musik dj. Tentu saja, lima penari tangju ini tidak mengenakan selembar pakaian pun. Mempertontonkan liukan-liukan syur di segala sudut ruang. Kadang naik ke meja, kadang mengitari ruang tamu dan sesekali membiarkan tubuhnya menjadi patung cantik yang bebas dicolek kiri-kanan.

“Kurang seru, ah. Masa’ cuma begini doang.” Beberapa teman Raka berkomentar singkat.

Pesta memang baru tahap pembukaan. Setelah lima penari tangju beraksi, di ruang 815 itu sudah tersedia sepuluh perempuan multi-etnis. Ada yang berwajah Uzbek, Cungkok alias Mandarin, Thailand dan tentu saja, gadisgadis lokal dengan prototipe: tinggi 170 cm ke atas, dada minimal 34 B, wajah cantik dan body aduhai.

Puncak acara malam itu ditandai dengan perploncoan. Kedua kaki dan tangan Raka diborgol pada sebuah kursi. Lalu lima penari tangju menjadikannya sebagai ‘bola mainan’, sampai akhirnya Raka dalam keadaan tanpa baju satu pun. Sedangkan kesepuluh perempuan multi-etnis yang tersedia, tinggal melaksanakan tugas di kamar-kamar yang sudah stand-by, sebagai tempat melabuhkan asmara sesaat. PLEASE ENJOY YOUR SELF. WELCOME TO WILD & PUSSY NIGHTS…!!! Sumber: Male Emporium




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: