Ups… Half Naked Show

 
 
 
Ups… Half Naked Show
Aje gile…! Rasanya satu kalimat pendek itu cukup untuk menggambarkan kehidupan malam Jakarta belakangan ini. Bukan apa-apa, malam-malam Jakarta dari hari ke hari makin menggila dengan aneka ragam hiburan yang kental dengan erotisme dan seksualitas. Tidak usah bicara private show yang banyak disuguhkan di ruang karaoke atau sejumlah klab tertentu, di sejumlah kafe, diskotek atau bar yang notabene terbuka untuk umum pun pertunjukan berbau ketelanjangan itu mulai marak digelar.

Hampir setiap minggu, biasanya pada hari Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu
malam, ponsel saya selalu mendapat kiriman sms (short message semice) yang isinya tak lain adalah undangan b’gaul gitu Iho. Dari sekadar undangan berdugem ria di sejumlah kafe trendsetter dengan deje-deje favorit, menyaksikan fashion show dengan menampilkan koleksi busana lingerie sampai pertunjukan tarian half naked alias separuh telanjang; dari penari cewek sampai penari cowok, semua ada dan tersedia.

Dalam sebulan terakhir ini misalnya, saya tak pernah absen mampir ke tiga kafe yang menggelar pertunjukan syur yang bisa membuat urat syaraf kendor untuk sesaat. Ya, paling tidak bisa memelototi tubuh-tubuh indah yang hanya terbalut beberapa helai baju selama satu jam lebih. Rabu malam, sekitar pukul sebelas, saya bersama beberapa kawan dekat sudah asyik menenggak beberapa gelas jackdie coke di sofa empuk berwama merah hati di sebuah klab berinisial BL di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Klab yang baru sekitar lima bulan beroperasi ini, punya acara spesial dengan tema sexy dancer. Kalau sekadar seksi, barangkali saya tak perlu repot-repot mengundang beberapa teman untuk bergabung.

“Kalau cuma penari seksi sih sudah terlalu biasa. Yang model begitu, di mana-mana juga ada,” ceplos Bimo, teman saya.

Puluhan tamu, kebanyakan laki-laki yang memenuhi ruangan, dengan ekspresi biasa menyaksikan sesi pertama lima penari cewek bertopeng yang ya, menutup tubuhnya di bagian dada dan alat vital. Lima penari itu dengan lincah dan agresif meliuk seksi dengan mengitari seluruh ruangan dan sesekali mendekati kerumunan tamu. Puncak tarian terjadi pada sesi kedua mereka tak segan-segan melepaskan kain penutup di bagian dada. Mereka menyebar dan satu persatu mendatangi kerumunan para tamu. Sesekali naik ke atas meja, menari di bawah siraman lampu. Lalu menyentuh, menggoda, meliuk seksi dengan mengguncangkan seluruh badanya, begitu seterusnya. Beberapa tamu menyelipkan tips berupa lembaran Rp 50 & Rp 100 ribuan. Selama satu jam, mereka menyuguhkan tarian erotis itu.

Kamis malam saya ditemani tiga teman cewek dan satu cowok, dari pukul sepuluh berkongkow ria di bar 2F di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ada puluhan tamu, kebanyakan laki-laki, tersebar di ruangan bar. Suasana memang agak sepi maklum baru pukul sepuluh. Sebotol Bacardi, dua gelas chivaz coke dan B52 serta tiga gelas Kahlua Cream menjadi minuman penghangat selama menunggu acara dimulai.

“Jam berapa sih mulai acaranya? Gue penasaran banget pengen nonton pennari laki. Macho gak?” tanya Retna, sahabat cewek saya, berusia 26 tahun, rajin dugem tapi mengaku belum pemah menonton tarian laki-laki.

Byar!!! Lampu meredup. Pukul sebelas malam lewat lima belas menit, empat penari cowok mulai beraksi. Mereka menyebar di setiap sudut. Ada yang di dalam bar, ada yang memilih menari di atas kursi dan ada juga yang langsung berada di tengah kerumunan tamu.

Alamak, mereka hanya mengenakan G string yang minimalis yang hanya menutup bagian paling sentral di tubuh. Retna yang memang penasaran, dengan seksama memperhatikan tontonan syur itu. Mereka berbadan atletis, laki-laki tulen, berotot, perut rata, bertinggi di atas 170 cm dan ups…G string itu Iho, mana tahan. Retna mengaku deg-deg-degan menyaksikan mereka bisa meliuk dengan begitu seksi. Apalagi ketika salah satu dari mereka berjalan mendekat ke arahnya.

“Ampun deje, matiin lampunya dong. Ha…ha…,” Retna berteriak kecil tapi tak mengurangi hasratnya untuk menari bersama. Ya, malam itu di 2Ftengah menggelar acara regular: GAY NITe with SEXy MALe Dancers. Tapi lucunya, selain para gay yang datang, banyakjuga tamu cewek yang penasaran ingin melihat laki-laki dalam setengah bugil bergoyang. Salah satunya ya Retna.

Minggu depannya, kamis malam, sekitar awal Agustus, saya iseng iseng mampir ke AV di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Saya mendapat undangan yang, aduh gimana ya, kalau dibaca menggoda banget. “12 ladies on BIKINI. they will be SEXy Fashion & Dance. PrePare `urself 2 ORGI+NAL ShoW.” Begitu sms yang saya terima.

Sendirian saya duduk di bar. Menenggak beberapa gelas bir Corona, menyaksikan siaran langsung 12 cewek dalam balutan busana bikini melenggang dan menari. Itu saja. Selebihnya, saya makin mathum kalau temyata, tempat hiburan malam di Jakarta tengah berlomba keras menjual ragam acara untuk menggaet tamu sebanyak-banyaknya.

Caranya? Ya, apalagi kalau tidak menyuguhkan sesuatu yang berbau seks. Tak percaya? Sekali waktu, pada Rabu atau Kamis malam, silakan menyisir ketiga klab malam tersebut. Dijamin, SEXy & Half NaKed Dancers, MALE SuPEr SEXyDancers atau LADIES on Bikini, pasti Anda temukan. Selanjutnya, terserah Anda lah yaw !!! © Sumber: Male Emporium




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: